Kamis, 18 Juli 2019


 ADEK
(Sebuah Catatan Alfiah Ariswati Sofian)

Namanya Adek. Aku mengajarnya sejak kelas delapan. Perawakannya tinggi, rambut ikal, kulit sawo matang.  Sebenarnya tak ada yang istimewa dari anak ini. Di bidang akademis ia tidak terlalu pandai, tetapi juga bukan peringkat terakhir. Di bidang olah raga ia juga biasa-biasa saja. Terdaftar di klub futsal sekolah, tetapi tak pernah mencetak prestasi di bidang ini.
Satu hal yang membuat dia menjadi buah bibir di antara para guru adalah "kenakalan"nya. Aku beri tanda kutip di sini, karena aku tak setuju dengan penyematan kata nakal untuk anak didikku yang malas mengerjakan tugas, sering membantah guru, sering terlambat ataupun bolos sekolah. Sejujurnya, aku tidak percaya ada anak "nakal". Bagiku sikap anak-anak yang demikian karena mereka sekedar ingin diperhatikan. Sederhana sekali, bukan?
Adek memang luar biasa. Hampir semua guru mencela setiap perbuatannya. Sikapnya yang semau gue dan tak peduli perasaan orang lain benar-benar membuat para guru murka. Bahkan wali kelasnya pun angkat tangan, malas menasihatinya lagi. Sebab berkali-kali dinasihati, tetap saja ia berbuat ulah semaunya. Sering ia membolos sekolah dan nongkrong di area perkebunan karet karena terlambat masuk sekolah. Pernah juga ia berkelahi dengan temannya hanya karena temannya tak sengaja menyenggol lengan Adek saat berpapasan.
Hukuman demi hukuman telah Adek terima dari hampir semua guru. Namun semua seakan percuma. Kebengalan Adek dianggap makin menjadi-jadi. Tugas dari guru tak pernah dikerjakan. Jam-jam pelajaran tertentu ia tinggal untuk nongkrong di kantin, lompat pagar sekolah untuk bisa kabur saat jam sekolah, memalak teman, berkelahi, merokok, dsb.
Meski Adek seringkali kurang sopan terhadap guru, tapi entahlah, aku pribadi tak merasa diperlakukan demikian. Adek tak pernah bolos pelajaranku dan selalu mengerjakan tugas-tugasku. Ia yang biasanya tidur di kelas saat guru menerangkan materi pelajaran, justru sebaliknya, ia sangat memperhatikan ketika aku berdiri di depan kelas. Hal ini tentu saja membuatku heran. Namun ketika kusampaikan hal ini pada guru-guru yang lain, mereka justru menertawakanku. Mereka tak percaya Adek bisa bersikap semanis itu terhadap guru. Mereka menganggapku mengada-ada, mengarang cerita, dan berusaha memberi pembelaan yang berlebihan terhadap Adek. Ya sudahlah.
Siang itu, aku tidak ada jadwal mengajar. Waktu kuhabiskan di perpustakaan untuk membaca buku. Tiba-tiba, Adek masuk dan menyapaku, minta izin untuk ngobrol. Aneh sekali. Anak super spesial ini minta waktu untuk ngobrol?
Aku mempersilakannya duduk di sebelahku. Dengan gayanya yang cuek, diraihnya salah satu buku yang tergeletak di hadapannya. Tidak dibaca,  cuma dibolak-balik  halaman demi halaman. Aku mengamatinya dengan ekor mataku.
Suatu hal yang sangat tidak kuduga, tiba-tiba Adek berkata bahwa ia bosan "nakal". Bosan dikecam, bosan dicap brengsek, tapi tidak tahu bagaimana caranya menghilangkan semua atribut itu dari dirinya. Ia juga berkata bahwa ia ingin orang melihat ia dari sisi baiknya. (Entah apa yang dimaksud Adek dengan sisi baiknya!)
“Lho, kamu selama ini memang anak baik, kan, Dek?” tanyaku pura-pura tak tahu.
Adek tersenyum kecut.
“Bu Alfi bercanda. Ibu kan tahu bagaimana bapak dan ibu guru membenci saya.”
“Bener, Dek. Kamu anak baik kok. Kamu nggak pernah bolos pelajaran Bu Alfi. Kamu juga selalu mengerjakan tugas yang ibu berikan,” kataku pura-pura tak percaya.  “Lagipula, nggak ada kok bapak atau ibu guru yang benci kamu.”
Lagi-lagi Adek tersenyum kecut.
“Nggak, Bu. Saya bukan anak baik. Saya sering bolos sekolah, saya berani menentang guru, saya nggak patuh, suka malak teman, suka berkelahi, nggak ngerjain PR. Pokoknya banyak.” Nafas Adek tersengal, “Saya Cuma rajin masuk dan mau mengerjakan tugas kalau jam Ibu aja.”
Dahiku berkernyit. Ini pertanyaan yang selama ini ada di benakku. Mengapa saat pelajaranku ia begitu antusias mengikuti dan selalu mengerjakan tugas dariku sementara ia tidak mau mengikuti pelajaran yang lain bahkan cenderung sengaja  berbuat ulah?
Selama ini aku tidak pernah memperlakukan Adek secara istimewa. Aku memperlakukannya sama seperti anak yang lain, tak berlebihan. Memang sih aku mengajar dia. Namun ya sebatas mengajar. Tentang dia dan masalahnya, aku tak pernah menangani secara langsung karena bukan wali kelasnya.
“Bu Alfi tahu kenapa saya suka pelajaran Ibu?” tanya Adek.
Aku menggeleng.
“Karena saya selalu membayangkan Bu Alfi adalah ibu saya.”
Dahiku berkernyit. Kulihat Adek sedikit gelisah. Tangannya tak berhenti membolak-balik buku yang dipegangnya.
"Bu, saya pengin jadi anak Bu Alfi aja, boleh?"
Aku tersentak kaget.
"Kenapa?"
"Saya suka kalau Bu Alfi cerita tentang anak-anak ibu. Enak ya, Bu, punya orang tua."
Mendengar perkataan Adek, tentu saja aku jadi kepo.
"Memangnya orang tuamu kemana, Dek?"
Mendengar pertanyaanku, mata Adek terlihat  berkaca-kaca.
Tentu saja aku menjadi makin ingin tahu.
"Orang tua saya bercerai saat saya berusia 3 bulan, Bu. Ibu saya entah di mana. Saya ikut nenek saya. Bapak menikah lagi saat usia saya 5 bulan, dan sekarang tinggal di Semarang."
Aku tercenung.
“Nenek saya yang selama ini membiayai sekolah, Bu. Nenek kerja jualan kayu bakar. Kalau pagi, nenek cari kayu di kebun karet. Nanti sorenya dibawa ke pasar.”
Mata Adek kembali berkaca-kaca.
“Tapi sekarang nenek saya sudah tua. Nenek terkena stroke dan tidak bisa bekerja lagi.”
Mendengar cerita Adek, mulutku serasa terkunci. Berat sekali rasanya untuk berbicara.
"Ayahmu sering menengokmu?"
Adek menggeleng.
"Ibumu?"
"Saya belum pernah sekalipun melihat wajah ibu saya." 
"Apa?"
Suaraku tiba-tiba saja menjadi parau. Sesuatu serasa mencekik leherku kuat-kuat.
"Lalu bagaimana dengan biaya sekolahmu, Dek, untuk transport, jajan, beli buku, siapa yang ngasih?"
Adek tersenyum.
"Kan saya kerja, Bu. Kalau siang sepulang sekolah, saya bersihkan kandang ayam punya tetangga sebelah rumah. Kalau malam, saya ikut ngantar sayuran ke pasar."
 "Terus kapan kamu belajar?"
Adek mengangkat bahu.
"Nggak sempat, Bu. Pulang dari pasar aja jam satu malam. Kadang jam dua. Kan saya capek."
Aku kembali terdiam.
Sungguh tak kusangka, anak yang spesial ini ternyata memang super spesial. Tak pernah terbayang di otakku bagaimana latar belakang keluarganya.
"boleh, kan, Bu...saya jadi anak Ibu? Saya janji nggak nakal , Bu...plissss…."
Entah mengapa, kepalaku mengangguk begitu saja. Tak bisa kuceritakan apa yang kurasakan. Semua serba campur aduk.
Lalu aku melihat air matanya mengalir seiring senyum yang mengembang dari bibirnya.
"Terima kasih, Bu."
Adek lantas mencium tanganku.
Aku masih terdiam.
Sampai Adek minta izin kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran, aku masih juga terdiam tanpa tahu harus bagaimana.
Sungguh tidak kusangka.  Berat sekali ternyata kehidupannya. Dan untuk kerasnya bertahan dengan hidupnya, ia masih menerima cerca dari kami, guru-gurunya. Selama ini kami cuma tahu ia sering terlambat dengan alasan kesiangan bangun. Sering bolos dengan alasan capek. Tak pernah mengerjakan tugas, dll. Tak pernah kami mau tahu bagaimana ia berjuang untuk hidup dan menghidupi dirinya dan neneknya.
Kuhela nafasku dalam-dalam.
Lima belas tahun berlalu. Bocah lelaki berperawakan tinggi dengan rambut ikal dan kulit sawo matang yang selalu menyimak pelajaranku dengan baik, yang selalu berbuat ulah di sekolah,  yang begitu terobsesi ingin menjadi anakku, kini tiba-tiba saja muncul di hadapanku. Aku tidak mungkin pangling dengannya sekalipun sekarang ia muncul dengan penampilan yang berbeda. Sungguh sebuah perubahan yang tidak pernah terlintas di otak kami sebagai gurunya.
Adek mencium tanganku, memelukku dan menangis di pundakku, “Ibu…terima kasih sudah menjadi ibu terbaikku,” demikian Adek berbisik di telingaku. Aku pun menangis haru.
Kutatap Adek tanpa berkedip. Ya, Adek yang sekarang memang nampak sangat berbeda. Benar-benar berbeda.
“Bener ini kamu, Dek? “
Hampir semua guru melontarkan pertanyaan yang sama. Bagaimana tidak.  Siapa yang menyangka jika Adek yang super spesial karena “kenakalannya” dulu ternyata sekarang bisa menjadi direktur sebuah perusahaan terkemuka di Jakarta?
Adek membius kami dengan ceritanya. Ia sampaikan bagaimana perjuangannya hingga bisa mendapatkan posisinya seperti ini di usia muda. Bagaimana ia terpaksa sekolah sambil bekerja agar bisa membayar biaya sekolahnya di SMA, yang tentunya lebih besar dibandingkan saat ia sekolah di SMP. Ia juga bercerita perjuangannya untuk bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri di Kota Semarang, hingga ia harus berjualan makanan di Simpang Lima saat malam tiba.
Tanpa terasa, air mataku kembali  menetes. Namun tangis kali ini adalah tangis karena kebahagiaan yang tiada terkira. Aku sangat bersyukur Adek bisa melampaui cobaan demi cobaan dalam hidupnya yang sangat keras. Aku bersyukur Adek mampu menaklukkan garangnya hidup ini.
Ya, Kesuksesan Adek memang buah manis dari perjuangan dan keiklasannya menghadapi setiap  cobaan yang Allah berikan. Kesuksesannya adalah hadiah dari Allah karena kerja keras dan itikad baiknya mengubah nasibnya.  Masya Allah.

Karanganyar, 19 Februari 2019
Teruslah berjuang untuk menjadi lebih baik!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar