ADEK
(Sebuah Catatan Alfiah Ariswati Sofian)
Namanya
Adek. Aku mengajarnya sejak kelas delapan. Perawakannya tinggi, rambut ikal,
kulit sawo matang. Sebenarnya tak ada
yang istimewa dari anak ini. Di bidang akademis ia tidak terlalu pandai, tetapi
juga bukan peringkat terakhir. Di bidang olah raga ia juga biasa-biasa saja.
Terdaftar di klub futsal sekolah, tetapi tak pernah mencetak prestasi di bidang
ini.
Satu
hal yang membuat dia menjadi buah bibir di antara para guru adalah
"kenakalan"nya. Aku beri tanda kutip di sini, karena aku tak setuju
dengan penyematan kata nakal untuk anak didikku yang malas mengerjakan tugas,
sering membantah guru, sering terlambat ataupun bolos sekolah. Sejujurnya, aku
tidak percaya ada anak "nakal". Bagiku sikap anak-anak yang demikian
karena mereka sekedar ingin diperhatikan. Sederhana sekali, bukan?
Adek
memang luar biasa. Hampir semua guru mencela setiap perbuatannya. Sikapnya yang
semau gue dan tak peduli perasaan orang lain benar-benar membuat para guru
murka. Bahkan wali kelasnya pun angkat tangan, malas menasihatinya lagi. Sebab
berkali-kali dinasihati, tetap saja ia berbuat ulah semaunya. Sering ia
membolos sekolah dan nongkrong di area perkebunan karet karena terlambat masuk
sekolah. Pernah juga ia berkelahi dengan temannya hanya karena temannya tak
sengaja menyenggol lengan Adek saat berpapasan.
Hukuman
demi hukuman telah Adek terima dari hampir semua guru. Namun semua seakan
percuma. Kebengalan Adek dianggap makin menjadi-jadi. Tugas dari guru tak
pernah dikerjakan. Jam-jam pelajaran tertentu ia tinggal untuk nongkrong di
kantin, lompat pagar sekolah untuk bisa kabur saat jam sekolah, memalak teman,
berkelahi, merokok, dsb.
Meski
Adek seringkali kurang sopan terhadap guru, tapi entahlah, aku pribadi tak
merasa diperlakukan demikian. Adek tak pernah bolos pelajaranku dan selalu
mengerjakan tugas-tugasku. Ia yang biasanya tidur di kelas saat guru
menerangkan materi pelajaran, justru sebaliknya, ia sangat memperhatikan ketika
aku berdiri di depan kelas. Hal ini tentu saja membuatku heran. Namun ketika
kusampaikan hal ini pada guru-guru yang lain, mereka justru menertawakanku.
Mereka tak percaya Adek bisa bersikap semanis itu terhadap guru. Mereka
menganggapku mengada-ada, mengarang cerita, dan berusaha memberi pembelaan yang
berlebihan terhadap Adek. Ya sudahlah.
Siang
itu, aku tidak ada jadwal mengajar. Waktu kuhabiskan di perpustakaan untuk
membaca buku. Tiba-tiba, Adek masuk dan menyapaku, minta izin untuk ngobrol.
Aneh sekali. Anak super spesial ini minta waktu untuk ngobrol?
Aku
mempersilakannya duduk di sebelahku. Dengan gayanya yang cuek, diraihnya salah
satu buku yang tergeletak di hadapannya. Tidak dibaca, cuma dibolak-balik halaman demi halaman. Aku mengamatinya dengan
ekor mataku.
Suatu
hal yang sangat tidak kuduga, tiba-tiba Adek berkata bahwa ia bosan
"nakal". Bosan dikecam, bosan dicap brengsek, tapi tidak tahu
bagaimana caranya menghilangkan semua atribut itu dari dirinya. Ia juga berkata
bahwa ia ingin orang melihat ia dari sisi baiknya. (Entah apa yang dimaksud
Adek dengan sisi baiknya!)
“Lho, kamu
selama ini memang anak baik, kan, Dek?” tanyaku pura-pura tak tahu.
Adek
tersenyum kecut.
“Bu Alfi
bercanda. Ibu kan tahu bagaimana bapak dan ibu guru membenci saya.”
“Bener,
Dek. Kamu anak baik kok. Kamu nggak pernah bolos pelajaran Bu Alfi. Kamu juga
selalu mengerjakan tugas yang ibu berikan,” kataku pura-pura tak percaya. “Lagipula, nggak ada kok bapak atau ibu guru
yang benci kamu.”
Lagi-lagi
Adek tersenyum kecut.
“Nggak, Bu.
Saya bukan anak baik. Saya sering bolos sekolah, saya berani menentang guru,
saya nggak patuh, suka malak teman, suka berkelahi, nggak ngerjain PR. Pokoknya
banyak.” Nafas Adek tersengal, “Saya Cuma rajin masuk dan mau mengerjakan tugas
kalau jam Ibu aja.”
Dahiku
berkernyit. Ini pertanyaan yang selama ini ada di benakku. Mengapa saat
pelajaranku ia begitu antusias mengikuti dan selalu mengerjakan tugas dariku
sementara ia tidak mau mengikuti pelajaran yang lain bahkan cenderung
sengaja berbuat ulah?
Selama
ini aku tidak pernah memperlakukan Adek secara istimewa. Aku memperlakukannya
sama seperti anak yang lain, tak berlebihan. Memang sih aku mengajar dia. Namun
ya sebatas mengajar. Tentang dia dan masalahnya, aku tak pernah menangani
secara langsung karena bukan wali kelasnya.
“Bu Alfi
tahu kenapa saya suka pelajaran Ibu?” tanya Adek.
Aku
menggeleng.
“Karena
saya selalu membayangkan Bu Alfi adalah ibu saya.”
Dahiku
berkernyit. Kulihat Adek sedikit gelisah. Tangannya tak berhenti membolak-balik
buku yang dipegangnya.
"Bu,
saya pengin jadi anak Bu Alfi aja, boleh?"
Aku
tersentak kaget.
"Kenapa?"
"Saya
suka kalau Bu Alfi cerita tentang anak-anak ibu. Enak ya, Bu, punya orang
tua."
Mendengar
perkataan Adek, tentu saja aku jadi kepo.
"Memangnya
orang tuamu kemana, Dek?"
Mendengar pertanyaanku,
mata Adek terlihat berkaca-kaca.
Tentu saja
aku menjadi makin ingin tahu.
"Orang
tua saya bercerai saat saya berusia 3 bulan, Bu. Ibu saya entah di mana. Saya
ikut nenek saya. Bapak menikah lagi saat usia saya 5 bulan, dan sekarang
tinggal di Semarang."
Aku
tercenung.
“Nenek saya
yang selama ini membiayai sekolah, Bu. Nenek kerja jualan kayu bakar. Kalau
pagi, nenek cari kayu di kebun karet. Nanti sorenya dibawa ke pasar.”
Mata Adek
kembali berkaca-kaca.
“Tapi
sekarang nenek saya sudah tua. Nenek terkena stroke dan tidak bisa bekerja
lagi.”
Mendengar
cerita Adek, mulutku serasa terkunci. Berat sekali rasanya untuk berbicara.
"Ayahmu
sering menengokmu?"
Adek
menggeleng.
"Ibumu?"
"Saya
belum pernah sekalipun melihat wajah ibu saya."
"Apa?"
Suaraku
tiba-tiba saja menjadi parau. Sesuatu serasa mencekik leherku kuat-kuat.
"Lalu
bagaimana dengan biaya sekolahmu, Dek, untuk transport, jajan, beli buku, siapa
yang ngasih?"
Adek
tersenyum.
"Kan
saya kerja, Bu. Kalau siang sepulang sekolah, saya bersihkan kandang ayam punya
tetangga sebelah rumah. Kalau malam, saya ikut ngantar sayuran ke pasar."
"Terus kapan kamu belajar?"
Adek
mengangkat bahu.
"Nggak
sempat, Bu. Pulang dari pasar aja jam satu malam. Kadang jam dua. Kan saya
capek."
Aku kembali
terdiam.
Sungguh tak
kusangka, anak yang spesial ini ternyata memang super spesial. Tak pernah
terbayang di otakku bagaimana latar belakang keluarganya.
"boleh,
kan, Bu...saya jadi anak Ibu? Saya janji nggak nakal , Bu...plissss…."
Entah
mengapa, kepalaku mengangguk begitu saja. Tak bisa kuceritakan apa yang
kurasakan. Semua serba campur aduk.
Lalu aku
melihat air matanya mengalir seiring senyum yang mengembang dari bibirnya.
"Terima
kasih, Bu."
Adek lantas
mencium tanganku.
Aku masih
terdiam.
Sampai Adek
minta izin kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran, aku masih juga terdiam
tanpa tahu harus bagaimana.
Sungguh
tidak kusangka. Berat sekali ternyata
kehidupannya. Dan untuk kerasnya bertahan dengan hidupnya, ia masih menerima
cerca dari kami, guru-gurunya. Selama ini kami cuma tahu ia sering terlambat
dengan alasan kesiangan bangun. Sering bolos dengan alasan capek. Tak pernah
mengerjakan tugas, dll. Tak pernah kami mau tahu bagaimana ia berjuang untuk
hidup dan menghidupi dirinya dan neneknya.
Kuhela
nafasku dalam-dalam.
Lima
belas tahun berlalu. Bocah lelaki berperawakan tinggi dengan rambut ikal dan
kulit sawo matang yang selalu menyimak pelajaranku dengan baik, yang selalu
berbuat ulah di sekolah, yang begitu
terobsesi ingin menjadi anakku, kini tiba-tiba saja muncul di hadapanku. Aku
tidak mungkin pangling dengannya sekalipun sekarang ia muncul dengan penampilan
yang berbeda. Sungguh sebuah perubahan yang tidak pernah terlintas di otak kami
sebagai gurunya.
Adek
mencium tanganku, memelukku dan menangis di pundakku, “Ibu…terima kasih sudah
menjadi ibu terbaikku,” demikian Adek berbisik di telingaku. Aku pun menangis
haru.
Kutatap
Adek tanpa berkedip. Ya, Adek yang sekarang memang nampak sangat berbeda.
Benar-benar berbeda.
“Bener ini
kamu, Dek? “
Hampir
semua guru melontarkan pertanyaan yang sama. Bagaimana tidak. Siapa yang menyangka jika Adek yang super
spesial karena “kenakalannya” dulu ternyata sekarang bisa menjadi direktur
sebuah perusahaan terkemuka di Jakarta?
Adek
membius kami dengan ceritanya. Ia sampaikan bagaimana perjuangannya hingga bisa
mendapatkan posisinya seperti ini di usia muda. Bagaimana ia terpaksa sekolah
sambil bekerja agar bisa membayar biaya sekolahnya di SMA, yang tentunya lebih
besar dibandingkan saat ia sekolah di SMP. Ia juga bercerita perjuangannya
untuk bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri di Kota Semarang,
hingga ia harus berjualan makanan di Simpang Lima saat malam tiba.
Tanpa
terasa, air mataku kembali menetes.
Namun tangis kali ini adalah tangis karena kebahagiaan yang tiada terkira. Aku
sangat bersyukur Adek bisa melampaui cobaan demi cobaan dalam hidupnya yang
sangat keras. Aku bersyukur Adek mampu menaklukkan garangnya hidup ini.
Ya,
Kesuksesan Adek memang buah manis dari perjuangan dan keiklasannya menghadapi
setiap cobaan yang Allah berikan.
Kesuksesannya adalah hadiah dari Allah karena kerja keras dan itikad baiknya
mengubah nasibnya. Masya Allah.
Karanganyar, 19 Februari 2019
Teruslah
berjuang untuk menjadi lebih baik!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar