KARENA
CINTA PADA ALLAH
Hari itu
suamiku pulang dari reuni SMA. Wajahnya nampak sumringah, Terlihat ia begitu
bahagia usai bertemu dengan teman-teman yang sudah terpisah selama 30 tahun. Ia
pun sibuk menebar cerita tentang teman yang dijumpainya, tentang serunya
bertukar kabar serta meriahnya acara yang diselenggarakan di sebuah hotel
berbintang di kota Semarang. Ia begitu antusias bercerita tentang temannya yang
sukses menjadi pejabat, dokter, dan pengusaha. Apalagi di acara itu hadir
bintang tamu kesayangannya, KLA Project. (Saking nge-fans dengan KLA, anak
pertama kami diberi nama Bagaskara, salah satu personil KLA). Hingga tak heran,
makin menggebu-gebulah ia bercerita. Dan aku, tentu saja menjadi pendengar yang
baik, menyimak setiap ceritanya dengan penuh perhatian.
Dari sekian
cerita yang sempat terlontar, ada satu cerita yang begitu menggelitik hatiku.
Membuat perasaanku sangat tidak nyaman. Memaksaku berpikir lebih jauh tentang
sosok yang disebut LELAKI.
Suamiku bercerita, bahwa di sela-sela
acara sebelum reuni dimulai malam harinya, ia diajak oleh teman-temannya untuk
‘refreshing’. (Katanya untuk membuang kejenuhan makan sayur asem tiap hari).
Awalnya kupikir acara itu adalah jalan-jalan menyusuri kota kenangan tempat
mereka dulu bersekolah, atau menyambangi tempat-tempat di mana mereka dulu
biasa nongkrong. Namun aku begitu terkejut dan terpukul saat tahu acara yang
mereka bilang untuk membuang kejenuhan makan sayur asem tiap hari itu ternyata
adalah pijat plus-plus! Tentu saja aku langsung terperangah dengan wajah
memerah. (Bagaimana tidak. Apa yang terpikirkan olehku tentang pijat plus-plus
tentu saja yang enggak-enggak!)
Aku mulai tak respek dengan cerita
suamiku. Dadaku meletup-letup berdetak begitu kencang. Kepalaku tertunduk
dalam. Kubayangkan bagaimana perempuan-perempuan
muda cantik berkulit putih mulus mengenakan baju seksi dengan belahan dada
rendah, menemui mereka di hotel. Kubayangkan bagaimana suamiku tercinta memeluk
perempuan itu dan membawanya ke kamar. Kubayangkan bagaimana tangan lentik
perempuan muda itu membuka baju suamiku, lalu memijit, ah, bukan….mengelus
punggung ayah dari anak-anakku…..oh Tuhan…….Aku bahkan tak berani membayangkan
bagaimana kelanjutannya….
Aku baru tersadar ketika kurasa
sentuhan lembut singgah di bahuku. Sepintas kulihat suamiku tersentak menatap
wajahku. Diusapnya air mata yang bahkan aku tak menyadarinya turun membasahi
pipiku. Dadaku pengap. Sesak. Tega sekali orang yang begitu kucintai selama ini
mengkhianatiku. Lupakah ia bagaimana kami melewati masa pacaran yang sangat
fantastis. 15 tahun? Lupakah ia siapa yang begitu setia mendampinginya dalam
biduk rumah tangga selama 17 tahun? Pernikahan memang tak selalu mulus. Ada
kalanya kami berselisih paham karena sesuatu hal. Tapi kami selalu bisa
menyelesaikannya bersama. Kami bukannya tak bahagia. Ada dua buah hati kami
yang sudah beranjak remaja, yang makin memperkuat ikatan cinta kami. Lalu apa
alasannya? Ataukah karena aku telah mulai terlihat tua, tak lagi segar seperti
dulu? Tak lagi cantik dan menarik? Atau memang begitukah tabiat lelaki saat
jauh dari anak dan istri? Tidak! Suamiku terbiasa jauh dari keluarga saat harus
tugas ke luar kota. Namun tak pernah sekalipun ia bercerita hal seperti ini.
Ataukah ini efek dari reuni? Mereka berpikir, mereka adalah lelaki bebas seperti
saat SMA yang bisa berbuat sekehendak hatinya?
Suamiku merengkuhku dalam pelukannya.
“Kamu jangan berpikir macam-macam. Kamu
nggak usah kawatir karena aku tentu saja
nggak mau ikut. “
Dahiku berkernyit. Jujur aku tak
seratus persen percaya padanya seperti biasanya. Bagaimana mungkin dia mampu
menolak godaan seperti itu. Ada uang, ada kesempatan dan suasana yang
mendukung. Mustahil rasanya ia bisa berkelit dari ajakan menggiurkan itu.
Aku tahu, dulu ketika SMA suamiku
memang terkenal nakal. Siapa pun teman SMA nya pasti kenal karena dia langganan
BP. Si Tukang bolos, perokok, tukang minum, juga jago berkelahi. (Untung saja
meskipun nakal otaknya begitu encer sehingga ia tak pernah tinggal kelas.
Bahkan begitu lulus SMA ia diterima di perguruan tinggi negeri favorit di kota
Semarang). Maka wajarlah kalau sekarang teman-temannya berpikir suamiku pasti
masih seperti yang dulu. Senakal ketika masih muda, sehingga mereka tak sungkan
mengajaknya berbuat bakal lagi, dengan kadar yang berbeda tentu saja.
“Percayalah, Ie. Kamu tahu aku tidak
mungkin mampu melakukannya,” kata suamiku sembari mengelus rambutku.
Aku sangat penasaran. Lalu apa
alasannya menolak ajakan itu? Karena sangat mencintaiku?
Ah….lagi-lagi aku tertunduk. Sejuta
perasaan resah, tak percaya, campur aduk di hatiku. Mengapa suamiku bercerita
padaku kalau ia memang tak jujur? Ia pasti akan menyimpannya rapat hingga aku
tak kan pernah mengetahuinya.
Akhirnya, kalutnya pikiranku pecah saat
suamiku berkata, “ Aku tidak mau melakukan itu karena aku sayang padamu, itu
betul sekali, Ie. Aku sangat mencintai anak-anak kita, itu sudah pasti. Kamu
dan anak-anak kitalah ladang ibadahku. Aku sangat mencintai kalian sebab Allah
menitipkan kalian padaku. Tapi lebih
dari itu semua, aku tak mau menuruti ajakan teman-temanku, karena aku begitu
mencintai Allah. Cintaku pada Allah begitu besar sehingga aku tidak ingin amal
ibadahku rusak hanya karena kenikmatan duniawi sesaat.”
Mendengar penjelasan suamiku, sontak
tangiskupun pecah. Aku sangat terharu. Cintanya pada Allah adalah sebuah alasan
yang tak perlu lagi kuragukan kebenarannya. Bukan semata karena mencintaiku dan
anak-anakku.
Subhanallah…..kupeluk erat suamiku
tersayang. Bertambahlah rasa cintaku. Bertambahlah rasa hormatku, Bertambah
pula rasa banggaku padanya.
(Sementara di sudut terkecil hatiku,
terbersit rasa iba pada perempuan dan para istri yang lain, yang suaminya
sempat tergoda pada tawara n menggiurkan itu….. )
Karanganyar,
12 Mei 2019