Kamis, 18 Juli 2019

KARENA CINTA PADA ALLAH


KARENA CINTA PADA ALLAH

          Hari itu suamiku pulang dari reuni SMA. Wajahnya nampak sumringah, Terlihat ia begitu bahagia usai bertemu dengan teman-teman yang sudah terpisah selama 30 tahun. Ia pun sibuk menebar cerita tentang teman yang dijumpainya, tentang serunya bertukar kabar serta meriahnya acara yang diselenggarakan di sebuah hotel berbintang di kota Semarang. Ia begitu antusias bercerita tentang temannya yang sukses menjadi pejabat, dokter, dan pengusaha. Apalagi di acara itu hadir bintang tamu kesayangannya, KLA Project. (Saking nge-fans dengan KLA, anak pertama kami diberi nama Bagaskara, salah satu personil KLA). Hingga tak heran, makin menggebu-gebulah ia bercerita. Dan aku, tentu saja menjadi pendengar yang baik, menyimak setiap ceritanya dengan penuh perhatian.
          Dari sekian cerita yang sempat terlontar, ada satu cerita yang begitu menggelitik hatiku. Membuat perasaanku sangat tidak nyaman. Memaksaku berpikir lebih jauh tentang sosok yang disebut LELAKI.
Suamiku bercerita, bahwa di sela-sela acara sebelum reuni dimulai malam harinya, ia diajak oleh teman-temannya untuk ‘refreshing’. (Katanya untuk membuang kejenuhan makan sayur asem tiap hari). Awalnya kupikir acara itu adalah jalan-jalan menyusuri kota kenangan tempat mereka dulu bersekolah, atau menyambangi tempat-tempat di mana mereka dulu biasa nongkrong. Namun aku begitu terkejut dan terpukul saat tahu acara yang mereka bilang untuk membuang kejenuhan makan sayur asem tiap hari itu ternyata adalah pijat plus-plus! Tentu saja aku langsung terperangah dengan wajah memerah. (Bagaimana tidak. Apa yang terpikirkan olehku tentang pijat plus-plus tentu saja yang enggak-enggak!)
Aku mulai tak respek dengan cerita suamiku. Dadaku meletup-letup berdetak begitu kencang. Kepalaku tertunduk dalam.  Kubayangkan bagaimana perempuan-perempuan muda cantik berkulit putih mulus mengenakan baju seksi dengan belahan dada rendah, menemui mereka di hotel. Kubayangkan bagaimana suamiku tercinta memeluk perempuan itu dan membawanya ke kamar. Kubayangkan bagaimana tangan lentik perempuan muda itu membuka baju suamiku, lalu memijit, ah, bukan….mengelus punggung ayah dari anak-anakku…..oh Tuhan…….Aku bahkan tak berani membayangkan bagaimana kelanjutannya….
Aku baru tersadar ketika kurasa sentuhan lembut singgah di bahuku. Sepintas kulihat suamiku tersentak menatap wajahku. Diusapnya air mata yang bahkan aku tak menyadarinya turun membasahi pipiku. Dadaku pengap. Sesak. Tega sekali orang yang begitu kucintai selama ini mengkhianatiku. Lupakah ia bagaimana kami melewati masa pacaran yang sangat fantastis. 15 tahun? Lupakah ia siapa yang begitu setia mendampinginya dalam biduk rumah tangga selama 17 tahun? Pernikahan memang tak selalu mulus. Ada kalanya kami berselisih paham karena sesuatu hal. Tapi kami selalu bisa menyelesaikannya bersama. Kami bukannya tak bahagia. Ada dua buah hati kami yang sudah beranjak remaja, yang makin memperkuat ikatan cinta kami. Lalu apa alasannya? Ataukah karena aku telah mulai terlihat tua, tak lagi segar seperti dulu? Tak lagi cantik dan menarik? Atau memang begitukah tabiat lelaki saat jauh dari anak dan istri? Tidak! Suamiku terbiasa jauh dari keluarga saat harus tugas ke luar kota. Namun tak pernah sekalipun ia bercerita hal seperti ini. Ataukah ini efek dari reuni? Mereka berpikir, mereka adalah lelaki bebas seperti saat SMA yang bisa berbuat sekehendak hatinya?
Suamiku merengkuhku dalam pelukannya.
“Kamu jangan berpikir macam-macam. Kamu nggak usah kawatir  karena aku tentu saja nggak mau ikut. “
Dahiku berkernyit. Jujur aku tak seratus persen percaya padanya seperti biasanya. Bagaimana mungkin dia mampu menolak godaan seperti itu. Ada uang, ada kesempatan dan suasana yang mendukung. Mustahil rasanya ia bisa berkelit dari ajakan menggiurkan itu.
Aku tahu, dulu ketika SMA suamiku memang terkenal nakal. Siapa pun teman SMA nya pasti kenal karena dia langganan BP. Si Tukang bolos, perokok, tukang minum, juga jago berkelahi. (Untung saja meskipun nakal otaknya begitu encer sehingga ia tak pernah tinggal kelas. Bahkan begitu lulus SMA ia diterima di perguruan tinggi negeri favorit di kota Semarang). Maka wajarlah kalau sekarang teman-temannya berpikir suamiku pasti masih seperti yang dulu. Senakal ketika masih muda, sehingga mereka tak sungkan mengajaknya berbuat bakal lagi, dengan kadar yang berbeda tentu saja.
“Percayalah, Ie. Kamu tahu aku tidak mungkin mampu melakukannya,” kata suamiku sembari mengelus rambutku.
Aku sangat penasaran. Lalu apa alasannya menolak ajakan itu? Karena sangat mencintaiku?
Ah….lagi-lagi aku tertunduk. Sejuta perasaan resah, tak percaya, campur aduk di hatiku. Mengapa suamiku bercerita padaku kalau ia memang tak jujur? Ia pasti akan menyimpannya rapat hingga aku tak kan pernah mengetahuinya.
Akhirnya, kalutnya pikiranku pecah saat suamiku berkata, “ Aku tidak mau melakukan itu karena aku sayang padamu, itu betul sekali, Ie. Aku sangat mencintai anak-anak kita, itu sudah pasti. Kamu dan anak-anak kitalah ladang ibadahku. Aku sangat mencintai kalian sebab Allah menitipkan kalian padaku.  Tapi lebih dari itu semua, aku tak mau menuruti ajakan teman-temanku, karena aku begitu mencintai Allah. Cintaku pada Allah begitu besar sehingga aku tidak ingin amal ibadahku rusak hanya karena kenikmatan duniawi sesaat.”
Mendengar penjelasan suamiku, sontak tangiskupun pecah. Aku sangat terharu. Cintanya pada Allah adalah sebuah alasan yang tak perlu lagi kuragukan kebenarannya. Bukan semata karena mencintaiku dan anak-anakku.
Subhanallah…..kupeluk erat suamiku tersayang. Bertambahlah rasa cintaku. Bertambahlah rasa hormatku, Bertambah pula rasa banggaku padanya.
(Sementara di sudut terkecil hatiku, terbersit rasa iba pada perempuan dan para istri yang lain, yang suaminya sempat tergoda pada tawara n menggiurkan itu….. )

                                                        Karanganyar, 12 Mei 2019



 ADEK
(Sebuah Catatan Alfiah Ariswati Sofian)

Namanya Adek. Aku mengajarnya sejak kelas delapan. Perawakannya tinggi, rambut ikal, kulit sawo matang.  Sebenarnya tak ada yang istimewa dari anak ini. Di bidang akademis ia tidak terlalu pandai, tetapi juga bukan peringkat terakhir. Di bidang olah raga ia juga biasa-biasa saja. Terdaftar di klub futsal sekolah, tetapi tak pernah mencetak prestasi di bidang ini.
Satu hal yang membuat dia menjadi buah bibir di antara para guru adalah "kenakalan"nya. Aku beri tanda kutip di sini, karena aku tak setuju dengan penyematan kata nakal untuk anak didikku yang malas mengerjakan tugas, sering membantah guru, sering terlambat ataupun bolos sekolah. Sejujurnya, aku tidak percaya ada anak "nakal". Bagiku sikap anak-anak yang demikian karena mereka sekedar ingin diperhatikan. Sederhana sekali, bukan?
Adek memang luar biasa. Hampir semua guru mencela setiap perbuatannya. Sikapnya yang semau gue dan tak peduli perasaan orang lain benar-benar membuat para guru murka. Bahkan wali kelasnya pun angkat tangan, malas menasihatinya lagi. Sebab berkali-kali dinasihati, tetap saja ia berbuat ulah semaunya. Sering ia membolos sekolah dan nongkrong di area perkebunan karet karena terlambat masuk sekolah. Pernah juga ia berkelahi dengan temannya hanya karena temannya tak sengaja menyenggol lengan Adek saat berpapasan.
Hukuman demi hukuman telah Adek terima dari hampir semua guru. Namun semua seakan percuma. Kebengalan Adek dianggap makin menjadi-jadi. Tugas dari guru tak pernah dikerjakan. Jam-jam pelajaran tertentu ia tinggal untuk nongkrong di kantin, lompat pagar sekolah untuk bisa kabur saat jam sekolah, memalak teman, berkelahi, merokok, dsb.
Meski Adek seringkali kurang sopan terhadap guru, tapi entahlah, aku pribadi tak merasa diperlakukan demikian. Adek tak pernah bolos pelajaranku dan selalu mengerjakan tugas-tugasku. Ia yang biasanya tidur di kelas saat guru menerangkan materi pelajaran, justru sebaliknya, ia sangat memperhatikan ketika aku berdiri di depan kelas. Hal ini tentu saja membuatku heran. Namun ketika kusampaikan hal ini pada guru-guru yang lain, mereka justru menertawakanku. Mereka tak percaya Adek bisa bersikap semanis itu terhadap guru. Mereka menganggapku mengada-ada, mengarang cerita, dan berusaha memberi pembelaan yang berlebihan terhadap Adek. Ya sudahlah.
Siang itu, aku tidak ada jadwal mengajar. Waktu kuhabiskan di perpustakaan untuk membaca buku. Tiba-tiba, Adek masuk dan menyapaku, minta izin untuk ngobrol. Aneh sekali. Anak super spesial ini minta waktu untuk ngobrol?
Aku mempersilakannya duduk di sebelahku. Dengan gayanya yang cuek, diraihnya salah satu buku yang tergeletak di hadapannya. Tidak dibaca,  cuma dibolak-balik  halaman demi halaman. Aku mengamatinya dengan ekor mataku.
Suatu hal yang sangat tidak kuduga, tiba-tiba Adek berkata bahwa ia bosan "nakal". Bosan dikecam, bosan dicap brengsek, tapi tidak tahu bagaimana caranya menghilangkan semua atribut itu dari dirinya. Ia juga berkata bahwa ia ingin orang melihat ia dari sisi baiknya. (Entah apa yang dimaksud Adek dengan sisi baiknya!)
“Lho, kamu selama ini memang anak baik, kan, Dek?” tanyaku pura-pura tak tahu.
Adek tersenyum kecut.
“Bu Alfi bercanda. Ibu kan tahu bagaimana bapak dan ibu guru membenci saya.”
“Bener, Dek. Kamu anak baik kok. Kamu nggak pernah bolos pelajaran Bu Alfi. Kamu juga selalu mengerjakan tugas yang ibu berikan,” kataku pura-pura tak percaya.  “Lagipula, nggak ada kok bapak atau ibu guru yang benci kamu.”
Lagi-lagi Adek tersenyum kecut.
“Nggak, Bu. Saya bukan anak baik. Saya sering bolos sekolah, saya berani menentang guru, saya nggak patuh, suka malak teman, suka berkelahi, nggak ngerjain PR. Pokoknya banyak.” Nafas Adek tersengal, “Saya Cuma rajin masuk dan mau mengerjakan tugas kalau jam Ibu aja.”
Dahiku berkernyit. Ini pertanyaan yang selama ini ada di benakku. Mengapa saat pelajaranku ia begitu antusias mengikuti dan selalu mengerjakan tugas dariku sementara ia tidak mau mengikuti pelajaran yang lain bahkan cenderung sengaja  berbuat ulah?
Selama ini aku tidak pernah memperlakukan Adek secara istimewa. Aku memperlakukannya sama seperti anak yang lain, tak berlebihan. Memang sih aku mengajar dia. Namun ya sebatas mengajar. Tentang dia dan masalahnya, aku tak pernah menangani secara langsung karena bukan wali kelasnya.
“Bu Alfi tahu kenapa saya suka pelajaran Ibu?” tanya Adek.
Aku menggeleng.
“Karena saya selalu membayangkan Bu Alfi adalah ibu saya.”
Dahiku berkernyit. Kulihat Adek sedikit gelisah. Tangannya tak berhenti membolak-balik buku yang dipegangnya.
"Bu, saya pengin jadi anak Bu Alfi aja, boleh?"
Aku tersentak kaget.
"Kenapa?"
"Saya suka kalau Bu Alfi cerita tentang anak-anak ibu. Enak ya, Bu, punya orang tua."
Mendengar perkataan Adek, tentu saja aku jadi kepo.
"Memangnya orang tuamu kemana, Dek?"
Mendengar pertanyaanku, mata Adek terlihat  berkaca-kaca.
Tentu saja aku menjadi makin ingin tahu.
"Orang tua saya bercerai saat saya berusia 3 bulan, Bu. Ibu saya entah di mana. Saya ikut nenek saya. Bapak menikah lagi saat usia saya 5 bulan, dan sekarang tinggal di Semarang."
Aku tercenung.
“Nenek saya yang selama ini membiayai sekolah, Bu. Nenek kerja jualan kayu bakar. Kalau pagi, nenek cari kayu di kebun karet. Nanti sorenya dibawa ke pasar.”
Mata Adek kembali berkaca-kaca.
“Tapi sekarang nenek saya sudah tua. Nenek terkena stroke dan tidak bisa bekerja lagi.”
Mendengar cerita Adek, mulutku serasa terkunci. Berat sekali rasanya untuk berbicara.
"Ayahmu sering menengokmu?"
Adek menggeleng.
"Ibumu?"
"Saya belum pernah sekalipun melihat wajah ibu saya." 
"Apa?"
Suaraku tiba-tiba saja menjadi parau. Sesuatu serasa mencekik leherku kuat-kuat.
"Lalu bagaimana dengan biaya sekolahmu, Dek, untuk transport, jajan, beli buku, siapa yang ngasih?"
Adek tersenyum.
"Kan saya kerja, Bu. Kalau siang sepulang sekolah, saya bersihkan kandang ayam punya tetangga sebelah rumah. Kalau malam, saya ikut ngantar sayuran ke pasar."
 "Terus kapan kamu belajar?"
Adek mengangkat bahu.
"Nggak sempat, Bu. Pulang dari pasar aja jam satu malam. Kadang jam dua. Kan saya capek."
Aku kembali terdiam.
Sungguh tak kusangka, anak yang spesial ini ternyata memang super spesial. Tak pernah terbayang di otakku bagaimana latar belakang keluarganya.
"boleh, kan, Bu...saya jadi anak Ibu? Saya janji nggak nakal , Bu...plissss…."
Entah mengapa, kepalaku mengangguk begitu saja. Tak bisa kuceritakan apa yang kurasakan. Semua serba campur aduk.
Lalu aku melihat air matanya mengalir seiring senyum yang mengembang dari bibirnya.
"Terima kasih, Bu."
Adek lantas mencium tanganku.
Aku masih terdiam.
Sampai Adek minta izin kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran, aku masih juga terdiam tanpa tahu harus bagaimana.
Sungguh tidak kusangka.  Berat sekali ternyata kehidupannya. Dan untuk kerasnya bertahan dengan hidupnya, ia masih menerima cerca dari kami, guru-gurunya. Selama ini kami cuma tahu ia sering terlambat dengan alasan kesiangan bangun. Sering bolos dengan alasan capek. Tak pernah mengerjakan tugas, dll. Tak pernah kami mau tahu bagaimana ia berjuang untuk hidup dan menghidupi dirinya dan neneknya.
Kuhela nafasku dalam-dalam.
Lima belas tahun berlalu. Bocah lelaki berperawakan tinggi dengan rambut ikal dan kulit sawo matang yang selalu menyimak pelajaranku dengan baik, yang selalu berbuat ulah di sekolah,  yang begitu terobsesi ingin menjadi anakku, kini tiba-tiba saja muncul di hadapanku. Aku tidak mungkin pangling dengannya sekalipun sekarang ia muncul dengan penampilan yang berbeda. Sungguh sebuah perubahan yang tidak pernah terlintas di otak kami sebagai gurunya.
Adek mencium tanganku, memelukku dan menangis di pundakku, “Ibu…terima kasih sudah menjadi ibu terbaikku,” demikian Adek berbisik di telingaku. Aku pun menangis haru.
Kutatap Adek tanpa berkedip. Ya, Adek yang sekarang memang nampak sangat berbeda. Benar-benar berbeda.
“Bener ini kamu, Dek? “
Hampir semua guru melontarkan pertanyaan yang sama. Bagaimana tidak.  Siapa yang menyangka jika Adek yang super spesial karena “kenakalannya” dulu ternyata sekarang bisa menjadi direktur sebuah perusahaan terkemuka di Jakarta?
Adek membius kami dengan ceritanya. Ia sampaikan bagaimana perjuangannya hingga bisa mendapatkan posisinya seperti ini di usia muda. Bagaimana ia terpaksa sekolah sambil bekerja agar bisa membayar biaya sekolahnya di SMA, yang tentunya lebih besar dibandingkan saat ia sekolah di SMP. Ia juga bercerita perjuangannya untuk bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri di Kota Semarang, hingga ia harus berjualan makanan di Simpang Lima saat malam tiba.
Tanpa terasa, air mataku kembali  menetes. Namun tangis kali ini adalah tangis karena kebahagiaan yang tiada terkira. Aku sangat bersyukur Adek bisa melampaui cobaan demi cobaan dalam hidupnya yang sangat keras. Aku bersyukur Adek mampu menaklukkan garangnya hidup ini.
Ya, Kesuksesan Adek memang buah manis dari perjuangan dan keiklasannya menghadapi setiap  cobaan yang Allah berikan. Kesuksesannya adalah hadiah dari Allah karena kerja keras dan itikad baiknya mengubah nasibnya.  Masya Allah.

Karanganyar, 19 Februari 2019
Teruslah berjuang untuk menjadi lebih baik!


HUKUMAN YANG MENDIDIK DARI GURU BIJAK
(Alfiah Ariswati Sofian)

     Bel istirahat pertama baru saja berbunyi. Setelah mengakhiri pembelajaran dengan sedikit refleksi, aku bergegas meninggalkan kelas. Karena jam berikutnya kosong, aku pun kembali ke kantor guru untuk mengejakan tugas yang lain. Namun baru sampai di depan perpustakaan, kulihat beberapa anak kelas delapan dengan wajah kelelahan merangkak menaiki tangga. Peluh bercucuran dari dahi mereka.
"Apa yang kalian lakukan?" tanyaku pada salah satu di antara mereka.
"Kami dihukum, Bu, karena tidak mengerjakan PR. Kami disuruh merangkak mengelilingi sekolah sebanyak empat kali," jawab seorang anak laki-laki dengan nafas masih terengah-engah.
Dahiku berkernyit. Hukuman macam apa ini? Apakah hukuman ini setimpal dengan kesalahan mereka? Tak adakah cara lain untuk menghukum mereka?
Kuhela nafasku dalam-dalam.
     Ya, bagiku hukuman fisik seperti ini bukanlah hukuman yang mendidik. Belum tentu hukuman fisik begini akan membuat mereka jera. Mungkin yang akan termemori di otak mereka justru rasa malu, marah, dan benci kepada guru pemberi hukuman. Belum lagi kalau ada di antara mereka ternyata mempunyai penyakit yang rentan kegiatan fisik berlebihan. Bisa saja hukuman fisik menjadi pemicu terjadinya hal yang tidak diinginkan.
     Memang, kita seringkali kesal dengan anak-anak yang gemar berulah. Ada-ada saja perbuatan mereka yang memancing emosi kita. Ada yang tidak mengerjakan PR, membolos saat pelajaran, ramai di kelas, berkelahi, dan sebagainya. Namun itulah anak. Tugas kita adalah mendidik. Bukan sekedar mengajar. Kalau cuma mengajar, kita cukup menyampaikan materi pelajaran, selesai. Tetapi mendidik, selain menyampaikan materi pelajaran, kita juga bertugas mengarahkan mereka agar memiliki etika dan perilaku yang baik. Dalam hal ini kerjasama dengan orang tua dan masyarakat tentulah sangat dibutuhkan.
     Lalu, bagaimana hukuman yang mendidik itu?
Banyak hukuman yang bisa kita berikan pada anak saat mereka melakukan kesalahan. Misalnya saja, saat anak tidak mengerjakan tugas Bahasa Indonesia yang kita berikan, kita bisa menghukum mereka dengan meminta mereka merangkum buku pelajaran, membaca cerpen dan membuat sinopsisnya, membuat berita, dll. Tentu saja disesuaikan dengan mata pelajaran masing-masing guru. Dengan demikian, hukuman itu bermanfaat bagi anak dan tidak beresiko.
Mari belajar menjadi guru bijak!


Karanganyar, 13 Maret 2019